Rabu, 17 Agustus 2016

Mesir dan Rakyatnya

ilustrasi gambar, from google
Selalu ada saja hal yang unik dari negeri seribu menara ini. Negeri yang banyak menelorkan ulama-ulama terkemuka yang berkaliber dunia ini memberikan kisah unik pada dialoq-dialoq santainya. Ada-ada saja kisah berbeda dan terasa aneh dari daratan asia yang selama ini kita tempati. Agak unik terdengar, tapi itulah cerita mereka yang selalu bertanya-tanya tentang hal yang bagi mereka sulit dan terlalu membebani. Apalagi kalau bukan masalah menyatukan dua insan yang menjadi problema mengakar bagi warga yang di lintasi sungai terpanjang di dunia ini.

Siang itu, penulis sedang mempunyai urusan ke idaroh (kantor) bu'us tempat penulis tinggal yang baru masuk sekitar 3 bulan yang lalu untuk mengurus beberapa urusan. Setelah memulai berbincang dan menjelaskan kedatangan, para pengurus idarah langsung tertawa, lantaran mendengarkan pernyataan penulis. Penulis jelaskan bahwa saya punyai mau'id (janji) untuk hadir setelah 30 hari, guna mengambil kerneh (kartu) yang akan diberikan kepada saya, sambil saya tunjukan kartu yang ia berikan pada hari itu. Dengan tertawa ia menjelaskan bahwa ia hanya bercanda, sikap yang menyatakan setelah 30 hari ke sini lagi untuk menyindir tabi'at orang mesir sendiri yang sering memberikan kata bukroh (besok) yang nyatanya menjadi tiga hari, seminggu bahkan lebih dari sebulan. Dengan enjoy juga penulis tertawa menutupi rasa kesal, dan memberikan alasan bahwa mungkin saja ada kartu lain seperti untuk masuk gerbang bu'us, terang penulis setelah mendengarkan pernyataannya bahwa kartu ini lah yang dimaksudkan. hehe.

Karena nihil atas makasud kedatangan penulis, orang mesir yang duduk santai berempat di ruangan itu, menanyakan asal penulis. Setelah penulis jawab, langsung to do poin ia menanyakan bagaimana pernikahan di negara penulis, Indonesia. Penulis bilang sangat mudah. Hanya butuh dana untuk membayar mahar semampunya kemudian uang untuk buku nikah. Bas keda (hanya ini)?, tanya mereka. Penulis jawab ia. hehe. Dengan wajah yang agak heran, bertanya dan bertanya lagi terkait pernikahan dan minoritas adat kita. Penulis dengan santai meladenin pertanyaan-pertanyaan seputar nikah terutama dari segi pembiyayaan dan kebutuhan selama pernikahan. Begitulah mungkin efek dari adat mereka yang berjalan dari dahulu. Karena mereka punya adat ketika melangsungkan pernikahan, sang mempelai laki-laki terutama bagi orang-orang yang berkhidupan pas-pasan sangat kewalahan, mulai dari harus menyediakan rumah, dan isinya, perabotan dapur, hingga mahar yang berlebihan.

Tapi jangan khawatir, ternyata dibalik semua itu ada hikmah yang terkandung. Setelah ditelusuri bahwa, kasus perceraian di negeri yang terkenal antara Musa dan Fir'aunnya bisa sedikit dikontrol. Karena, laki-laki yang telah banyak berkorban  di awal sedikit menyesal jika ia menceraikan istrinya, karena uang yang ia keluarkan tidak sedikit. Berbalik di negara kita, bahwa kasus percerain drastis meningkat dan terjadi di mana-mana pada semua strata golongan sosial. Semoga bisa di ambil yang baik dari adat antar dua negari ini. 

Senin, 15 Agustus 2016

Masjid Pusat Central Kebangkitan

penulis berfose di depan papan presmian masjid
di komplek kediaman Grand Syakh Al-Azhar.
Masjid, dikenal sebagai rumah ibadah umat islam. Masjid juga tempat ibadah teraktif yang memerintahkan umatnya untuk melangkahkan kaki lima kali sehari semalam. Bukan hanya itu ternyata, masjid berperan sebagai tempat perayaan hari umat islam setiap tahunnya yaitu hari raya idul fitri dan hari raya idul adha yang tidak jarang juga mengambil halaman dan jalan-jalan untuk dijadikan perkumpulan (ibadah) bersama-sama.

Berbicara masalah masjid. Kita melihat ada pergeseran fungsi dan peran di akhir-akhir ini. Yang jelas dan ma'ruf di tengah-tengah kita bahwa masjid sebagai tempat ibadah saja mulai pudar dan terabaikan. Yang kita ketahui bahwa setiap desa minamal memiliki dua atau lebih masjid agung (besar) mulai terasa sunyi dan hanya berisi debu-debu dan karpet sajadah yang tergulung rapi yang hanya beberapa kali saja setiap minggunya dikeluarkan.

Kemana masyarakat kita?. Penulis memahami ada beberapa faktor penyebab terjadi kesunyian di rumah ibadah umat suci islam. Pertama, bahwa terjadinya penurunan kualitas dan kuantitas ibadah masyarakat secara umum, disebabkan pelajaran dan pengajaran agama tidak menempati posisi central sepertai dulu. Kedua, masyarakat kita tertekan dengan kondisi perekonomian yang mencekik sehingga kebutuhan sehari-haripun mereka kewalahan, hingga tersibukan. Ketiga, juga kita harus pahami bahwa perlawanan dan makar orang-orang di luar islam tidak pernah tidur, selalu mencari celah untuk mengerogoti hingga berhasil, berbagai cara umat islam dibuatnya, mulai dari remaja kita yang rusak karena narkoba, ekstasi, miras dan lain-lain, atau tubuh kelompok islam sendiri yang selalu diadu dan dibenturkan hingga hal-hal urgen tidak dapat dicapai dan dilakukan.

Maka salah satu mencari titik awal kebangkitan menurut penulis adalah mengambalikan peran dan fungsi masjid, bahkan bukan hanya mengembalikan fungsinya sebagai tempat beribadah namun lebih dari itu, sebagaimana yang dilakukan oleh Rosulullan Saw, ketika berhijrah ke madinah, baginda Rosul memulai membangun negara dengan mendirikan masjid kemudian menjadikannya pusat central pertemuan, dan mengontrol kondisi umat saat itu di Madinah. Dan hemat penulis adalah mari bersama melepaskan baju perbedaan mari bersama melangkah bersilaturahmi dan berkumpul di masjid untuk membahas problem umat kita saat ini. Kita mampu dan layak untuk menjadi genarasi modern yang memakmurkan dunia dan isinya. Wallahu'alam.

Kemerdekaan Kita

penulis mengibarkan bendera merah putih
di bukit tursina(sinai), Egypt.
Sehari lagi negara kita Indonesia akan melewati 71 tahun deklarasi kemerdekaan yang di deklarasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada 17 Agusutus 1945.

Tentu ini momen penting bagi sebuah negara untuk mengukur seberapa besar tujuan dan tekad para pemimpin saat ini dalam menjalankan amanah para pemimpin dan pejuang kemerdekaan negara kita.

Pejuang dan deklarator negara ini, bercita-cita Indonesia tetap berada di bawah satu naungan merah putih, kekayaan bumi dan laut untuk rakyat Indonesia, dan berperan aktif untuk keamanan dunia. Kira-kira demikianlah secara tersirat arah dan cita-cita pejuang dan deklarator bangsa ini.

71 tahun bukan usia yang muda dan singkat. 71 tahun usia yang sudah bisa memperlihatkan hasil dan menikmati jerih payah. Tapi jauh api dari pangang, Cita-cita pendiri dan pejuang bangsa kita masih jauh dari realisasi dan tidak mengena. Negara kita terlalu besar jika dipimpin oleh segelintir orang dan kelompok. Negara kita terlalu sibuk untuk meredamkan politik dalam negeri yang selalu terbakar. Elit negara kita terlalu sibuk berbagi kekuasaan dan kursi. Politikus kita terlalu menikmati fasilitas-fasilitas negara sehingga lupa yang memberi dan yang membayar mereka, rakyat.

Sebagai generasi dan penerus bangsa ini, tidak sepatutnya juga kita pesimis dan mengeluh atas derita negeri ini. Percaya, bahwa masih ada harapan yang tersedia untuk generasi selanjutnya yang akan datang dengan waktu yang tepat. Selagi ruh masih di kandung bandan, rasa cinta negeri ini masih tetap berkobar, selama itu juga harapan itu ada. Selamat HUT RI ku yang ke 71. Optimis, terdepan dan berperadaban.  

Minggu, 14 Agustus 2016

Obsesi Besar

Penulis (kiri) bersama Grnd Syakh Al-Azhar (kanan)
dan Dr. Lukman (tengah).
Cita-cita, seperti itulah kata yang sering guru-guru kita tanyakan ketika masih di Sekolah Dasar dan semacamnya. Mereka bertanya kelak bahwa cita-cita yang kita sebutkan bisa melejitkan obsesi dan kemauan, agar cita-cita yang disebutkan bisa tercapai. 

Cita-cita juga selalu kepada hal yang besar dan terkadang di luar jangkauan kemampuan kita, tetapi itulah makna dari cita-cita yang diinginkan bukan sebaliknya yang mudah digapai. 

Berbicara masalah cita-cita, penulis sendiri sewaktu kecil sangat tertarik pada dunia kemiliteran dan tak heran ketika ditanya saat itu, maka penulis menjawab bahwa ingin menjadi TNI, tapi ada daya, ternyata syarat utama saja seperti tinggi harus 165 cm tidak memenuhi. hehe.

Arus kehidupanpun ditakdirkan Allah Swt, berbeda. Tidak terencana bahwa anak desa yang sering menemani orang tuanya bertani dan berkebun bisa menginjakan kaki di gurun pasir benua Afrika, Egypt. Penulis tercatat menjadi mahasiswa Al-Azhar University, Fakultas Syariah Wal Qonun, jurusan Syariah Islamiah di Kairo. Hanya takdir Allahlah yang bisa berkata. Harapan dan kemauan keluargapun menuntut agar bisa menjadi delegasi yang sebaik-baiknya dalam menimbah dan mengambil kesempatan langkah seperti ini.  

Hidupmu Jalanmu

ilustrasi, penulis menengada ke langit Siwa, Egypt
Tidak menafikan dalam kehidupan ini ketika berbaur dan berinteraksi sesama membuat kita tersudutkan baik dari ucapan ataupun tingkah laku yang disengaja ataupun tidak dari rekan sejawat atau selainnya. Penyebab ini membuat seseorang terkadang terjatuh dan hilang arah untuk melangkah lebih baik kedepannya.

Hilangnya orientasi kemauan untuk berbuat lebih baik seperti ini, banyak dihinggapi dari kalangan kita sehingga objek-objek baik terlewatkan untuk mereka dapatkan dan sungguh ini sangat merugi bagi kita yang hidup hanya sebentar ini. Bak seorang musafir yang hanya berteduh dan akan melanjutkan kembali perjalanannya, demikian yang digambarkan oleh Rosulullah Saw.

Melihat kondisi seperti ini, kalangan ulama telah memberi contoh ataupun tips-tpis ringan, dalam menghadapi kondisi-kondisi rumit, yang tentu akan menentukan jalan hidup kita. Pertama hendaklah ia memahami bahwa tak seorangpun yang akan luput dari lisan manusia. Kedua, senantiasakan mengingat bahwa aktifitas dan orientsi kita hanya kepada Allah Swt. Ketiga, kurangi bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang yang kurang baik sehingga hatipun tetap terjaga. dan keempat, balaslah sesuatu itu dengan hal yang baik meski akan berat terasa mengerjakannya tetapi tetaplah berusaha untuk itu.


Sabtu, 13 Agustus 2016

Biografi Penulis

Apri Hariadi di Laut Merah, Egypt
Terlahir di desa Rantau Panjang yang berada di salah satu kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan, pemuda kelahiran 4 April 1993, saat ini sedang belajar di negeri seribu menara atau yang dikenal dengan Mesir.

Apri Hariadi, begitulah nama yang dianugerahkan oleh sang ayah Mahidin Yusuf dan Ibunda Halimah Hadamah, di desa yang masyarakatnya banyak mengandalkan sektor pertanian, kebun karet dan kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Setelah lulus pada tahun 2005 di SD Negeri 1 Rantau Panjang, pemuda yang cendrung pendiam ini, melanjutkan Sekolah Menengahnya di SMP Negeri 2 Lawang Wetan hingga tahun 2008. Kemudian dengan bermodalkan nekat dan keinginan, orang tuanya yang hanya berprofesi buruh tani dan ibu rumah tangga bertekad untuk menyekolahkan anaknya di pondok pesantren modern Assalam Al-Islami di Sri Gunung, Sungai Lilin, Musi Banyuasin hingga selesai pada tahun 2012. Dan pada akhirnya berkat do'a dan usaha ia bisa melanjutkan studynya ke Al-Azhar University Kairo pada tahun 2012 hingga sekarang.


Selengkapnya bisa bersilaturhami lebih jauh tentang Apri Hariadi.
twiter :  aprimahidin
facebook: Apri Hariadi

Total Tayangan Halaman