Senin, 15 Agustus 2016

Masjid Pusat Central Kebangkitan

penulis berfose di depan papan presmian masjid
di komplek kediaman Grand Syakh Al-Azhar.
Masjid, dikenal sebagai rumah ibadah umat islam. Masjid juga tempat ibadah teraktif yang memerintahkan umatnya untuk melangkahkan kaki lima kali sehari semalam. Bukan hanya itu ternyata, masjid berperan sebagai tempat perayaan hari umat islam setiap tahunnya yaitu hari raya idul fitri dan hari raya idul adha yang tidak jarang juga mengambil halaman dan jalan-jalan untuk dijadikan perkumpulan (ibadah) bersama-sama.

Berbicara masalah masjid. Kita melihat ada pergeseran fungsi dan peran di akhir-akhir ini. Yang jelas dan ma'ruf di tengah-tengah kita bahwa masjid sebagai tempat ibadah saja mulai pudar dan terabaikan. Yang kita ketahui bahwa setiap desa minamal memiliki dua atau lebih masjid agung (besar) mulai terasa sunyi dan hanya berisi debu-debu dan karpet sajadah yang tergulung rapi yang hanya beberapa kali saja setiap minggunya dikeluarkan.

Kemana masyarakat kita?. Penulis memahami ada beberapa faktor penyebab terjadi kesunyian di rumah ibadah umat suci islam. Pertama, bahwa terjadinya penurunan kualitas dan kuantitas ibadah masyarakat secara umum, disebabkan pelajaran dan pengajaran agama tidak menempati posisi central sepertai dulu. Kedua, masyarakat kita tertekan dengan kondisi perekonomian yang mencekik sehingga kebutuhan sehari-haripun mereka kewalahan, hingga tersibukan. Ketiga, juga kita harus pahami bahwa perlawanan dan makar orang-orang di luar islam tidak pernah tidur, selalu mencari celah untuk mengerogoti hingga berhasil, berbagai cara umat islam dibuatnya, mulai dari remaja kita yang rusak karena narkoba, ekstasi, miras dan lain-lain, atau tubuh kelompok islam sendiri yang selalu diadu dan dibenturkan hingga hal-hal urgen tidak dapat dicapai dan dilakukan.

Maka salah satu mencari titik awal kebangkitan menurut penulis adalah mengambalikan peran dan fungsi masjid, bahkan bukan hanya mengembalikan fungsinya sebagai tempat beribadah namun lebih dari itu, sebagaimana yang dilakukan oleh Rosulullan Saw, ketika berhijrah ke madinah, baginda Rosul memulai membangun negara dengan mendirikan masjid kemudian menjadikannya pusat central pertemuan, dan mengontrol kondisi umat saat itu di Madinah. Dan hemat penulis adalah mari bersama melepaskan baju perbedaan mari bersama melangkah bersilaturahmi dan berkumpul di masjid untuk membahas problem umat kita saat ini. Kita mampu dan layak untuk menjadi genarasi modern yang memakmurkan dunia dan isinya. Wallahu'alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman